ANDA SOPAN KAMI SEGAN

TOMMI MENANGKAN PERKARA


Untuk memajukan kinerja hukum di Indonesia, dibutuhkan Ketua Mahkamah Agung yang kuat. Oleh karena itu, evaluasi setiap semester atas kinerja Ketua MA penting dilakukan.

Ketika dihubungi, Sabtu (10/1) di Jakarta, dosen Hukum Pidana Universitas Indonesia, Rudy Satriyo Mukantardjo, mengatakan, jika dalam satu semester ternyata produktivitas atau kinerja Mahkamah Agung buruk, Ketua MA harus diganti.

Kriteria produktivitas tersebut, menurut Rudy, terkait dengan pengurangan jumlah perkara dan mutu putusan. ”Tentu saja kinerja yang baik itu perlu ditunjang kemampuan fisik karena ini terkait dengan kepentingan umum,” katanya.

Rudy menilai kinerja MA selama ini lambat dan itu ditunjukkan dengan menumpuknya banyak perkara.

Kepemimpinan yang kuat antara lain ditunjukkan dengan usia muda yang penuh dengan dinamika, mampu membuat terobosan hukum, dan mampu memajukan kinerja hukum di Indonesia.

Menurut Rudy, wujud dari kuatnya kepemimpinan MA antara lain kemampuan membatasi perkara yang layak masuk ke Mahkamah Agung. Untuk itu, mereka harus mampu membuat kriteria tentang perkara yang layak diajukan ke MA sehingga tidak semua perkara masuk ke MA dan cukup sampai di tingkat pengadilan negeri.

Itu artinya, MA harus memperkuat hakim di pengadilan negeri. ”Sehingga mereka mampu menghasilkan putusan yang berkualitas. Selain pemindahan tempat tugas, setiap satu hingga dua tahun, mereka diuji lagi. Kalau ternyata tidak mampu, harus diganti,” katanya

Dua putaran

Pemilihan Ketua MA 2009-2014 sangat mungkin berlangsung dua putaran. Putaran pertama untuk menentukan calon (sedikitnya mendapat dukungan lima hakim agung) dan putaran kedua untuk menentukan Ketua MA terpilih.

Pelaksana Tugas Ketua MA Harifin A Tumpa, Jumat di Jakarta, menjelaskan hal itu.

Mengenai waktu pelaksanaan, juru bicara MA, Djoko Sarwoko, menyatakan, pemilihan kemungkinan besar dilakukan pada 22 atau 23 Januari.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di MA, saat ini dukungan para hakim agung sudah mulai mengkristal pada tiga hakim agung senior.

Mereka adalah Harifin A Tumpa, Djoko Sarwoko, dan Paulus Effendie Lotulung (Ketua Muda Bidang Tata Usaha Negara sekaligus Ketua Tim Pembaruan MA). Harifin pada posisi Ketua MA, Djoko sebagai Wakil Ketua Bidang Yudisial, sedangkan Paulus pada posisi Wakil Ketua Bidang Non-Yudisial.

Saat hal itu dikonfirmasi, Djoko Sarwoko mengatakan belum mendengarnya. Dia mengaku belum merasakan geregetnya pemilihan. ”Semua masih sembunyi. Mungkin minggu depan baru terasa,” ujar Djoko.

Sementara itu, Harifin mengaku tidak memiliki persiapan khusus untuk maju dalam pemilihan.

Ditanya mengenai kondisi kesehatannya, ia mengatakan, ”Orang bisa menilai sendiri bagaimana. Sebab, setelah kejadian waktu pelantikan hakim agung lalu, saya tidak pernah absen. Itu cuma karena kram. Semua orang bisa kena kram. Waktu itu, setelah selesai acara, saya bisa makan bersama tamu lalu memimpin rapat pimpinan. Esoknya saya sidang sampai 32 perkara.”

Harifin A Tumpa sempat terjatuh saat akan mengambil sumpah jabatan enam hakim agung baru pada akhir Desember 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s