ANDA SOPAN KAMI SEGAN

EKSPLORASI

Pemboran Dalam Dan Pengukuran Gas Dalam Lapisan Batubara Daerah Tanah Bumbu Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan


Pengukuran kandungan gas dilakukan pada wilayah Desa Sungai Danau, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan. Pengukuran kandungan gas ini dimaksudkan untuk mengetahui akan adanya komposisi dan kuantitas kandungan gas yang ada pada sampel inti bor batubara dan pada seluruh seam batubara berdasarkan luas daerah pengaruh di wilayah penyelidikan. Hasil pengukuran kandungan gas ini selain untuk mengetahui akan kandungan gas batubara di wilayah tersebut, dapat digunakan sebagai acuan atau referensi pentingnya kandungan gas dalam hubungannya dalam masalah keselamatan tambang, khususnya untuk tambang dalam, dan secara umum sebagai dampak akan adanya pengaruh gas yang keluar terhadap lingkungan sekitar tambang. Tujuan lainnya dari pengukuran dan analisa kandungan gas ini adalah mencari seberapa besar sumber daya gas yang ada di dalam lapisan batubara sebagi potensi energi yang dapat dijadikan sebagai salah satu energi yang cukup potensial untuk dimanfaatkan bagi negara.

Secara umum batubara geologi daerah penyelidikan termasuk ke dalam Cekungan Pasir, dimana terdiri dari Formasi Warukin, Berai, Tanjung, dan Batuan Pra-Tersier. Dan Formasi Warukin dan  Tanjung merupakan formasi pembawa batubara. Terdapat singkapan batubara sebanyak 21 buah yang tersebar pada beberapa Formasi Warukin dan Tanjung dengan kemiringan rata-rata sekitar 25O. Dari pemboran diperoleh 12 seam batubara dimana ada tiga seam yan mempunyai ketebalan lebih besar dari 1 meter, yaitu Seam E dengan ketebalan 0,96 m, Seam I dengan ketebalan 2,27 meter dan Seam J dengan ketebalan 5,05 meter

Diperoleh total sumberdaya batubara untuk tambang dalam sebesar 107.364.977 ton dan sumberdaya batubara untuk pengembangan kandungan gas sebesar 112.733.226 ton. Kemudian sumberdaya kandungan gas batubara diperoleh sebesar 5,164,389,763 Cuft.  Secara komposisi, diperoleh gas O2 sebesar 519.715.517 cuft, N2 diperoleh sebesar 3.149.305.937 cuft, CH4 diperoleh sebesar 402.255.325 cuft dan CO2 diperoleh sebesar1.361.567cuft.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Prospek penambangan batubara dengan metoda tambang terbuka seperti kebanyakan saat sekarang, untuk masa datang akan semakin sulit. Hal ini disebabkan oleh letak lapisan batubara sudah semakin dalam dari permukaan, sehingga nilai perbandingan antara batubara dan batuan pengapit akan semakin tinggi yang mengakibatkan penambangan menjadi tidak ekonomis. Disamping hal tersebut, masalah kestabilan lereng bukaan tambang dan pengaruh rembesan air tanah akan menjadi kendala yang besar bagi usaha pertambangan. Sedangkan untuk lapisan batubara yang masih menerus sampai ke dalam, proses penambangan pada tahap selanjutnya diperlukan perencanaan tambang bawah tanah. Masalah lain yang timbul adalah kandungan gas yang terdapat di dalam lapisan batubara dapat membahayakan keselamatan tambang, khususnya dalam tambang bawah tanah (underground mining). Kandungan gas dalam lapisan batubara dapat membahayakan bagi keselamtan pekerja tambang dalam, tetapi di sisi lain potensi gas yang ada dalam lapisan batubara dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif yang dapat bermanfaat bagi masyarakat. Semua hal di atas akan lebih jelas jika kita mengetahui terlebih dahulu karakteristik, kuantitas dan kualitas potensi kandungan gas di dalam batubara tersebut.

Sejalan dengan TUPOKSInya Pusat Sumber Daya Geologi khususnya Kelompok Program Penelitian Energi Fosil melakukan kegiatan pemboran dan pengambilan conto batubara untuk dilakukan pengukuran kandungan gas dalam lapisan batubara tersebut. Kegiatan ini dibiayai oleh DIPA Pusat Sumber Daya Geologi Tahun Anggaran 2008. Untuk pekerjaan analisa kandungan dan komposisi gas dilakukan pada Laboratorium Pusat Sumber Daya Geologi.

Maksud dan Tujuan

Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi geometri secara vertikal terhadap lapisan batubara dengan kedalaman lebih dari 100 meter, nilai permeabilitas dan kandungan gas batubara, sebagai bagian dari penyediaan data awal utuk perencanaan tambang dalam di masa yang akan datang.

Sedangkan tujuan dari kegiatan ini untuk mengetahui gambaran geometri regional lapisan batubara, kuantitas, kualitas dan kandungan gas lapisan batubara pada kedalamanlebih dari 100 m. Dimana nantinya data tersebut dapat digunakan untuk bahan evaluasi perencanaan tambang dalam. Kemudian hasil pengujian packer test bertujuan untuk mengetahui permeabilitas pada lapisan batubara dalam hubungannya untuk mengetahui kandungan dan kualitas gas methane dan akan berguna dalam perencanaan selanjutnya pada studi coalbed methane.

Hasil-hasil tersebut juga diharapkan dapat melengkapi data geologi tentang batubara dalam Cekungan Pasir dan pemutakhiran  Bank Data Pusat Sumber Daya Geologi, terutama dalam rangka pembaharuan data untuk pembuatan Neraca Sumber Daya dan Cadangan Batubara Indonesia.

Lokasi Daerah Penyelidikan
Lokasi penyelidikan terletak sekitar 250 km ke arah timur dari Kota Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Lokasi ini bisa ditempuh dengan kendaraan darat selama lebih kurang enam jam dari Banjarmasin. Secara geografis dibatasi koordinat antara 3o 35’ – 3o 50’ LS dan 115o 15’ – 115o  30’ BT. Titik pemboran berada pada koordinat 3o 42’ 18,2’’ LS dan 115o 20’ 25,0’’ BT dengan kode pemboran CSAT-01.

Secara administratif lokasi pemboran dilaksanakan di wilayah Pabilahan – Bukit Baru, Desa Sungai Danau yang merupakan ibukota Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan (Gambar 1). Di daerah ini telah banyak perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang pertambangan batubara diantaranya adalah PKP2B PT. Wahana Baratama Mining dan PT Arutmin serta KP perusahaan lainnya. Penentuan titik bor ditentukan berdasarkan hasil ploting singkapan batubara dan informasi geologi lainnya di lapangan serta kerjasama dengan pihak perusahaan pertambangan dan Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Selatan serta Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Tanah Bumbu. Hasil pemodelan data bawah tanah di wilayah kegiatan dengan mengambil parameter-parameter geologi, menunjukkan bahwa di lokasi titik bor yang telah ditentukan, diperkirakan terdapat formasi batubara yang mengandung gas metana.

Demografi dan Keadaan Lingkungan

Penduduk yang menempati wilayah ini cukup beragam baik penduduk asli maupun pendatang. Penduduk asli didominasi oleh Suku Banjar dan sebagian kecil Suku Dayak yang merupakan penduduk asli pedalaman Kalimantan, namun penduduk pendatang lebih dominan dan bermukim di Sungai Danau yang merupakan ibukota Kecamatan Satui, mengingat daerah ini banyak aktivitas pekerja pertambangan, suku-suku tersebut  diantaranya adalah suku Jawa, Sunda, Bali dan suku lainnya. Penduduk umumnya bekerja di bidang pertambangan, pertanian, perkebunan, perkayuan, perdagangan dan lain-lain. Agama yang dianut umumnya agama Islam dan sebagian kecil beragama Nasrani, Hindu dan Kaharingan.

Tingkat perekonomian penduduk daerah ini cukup baik mengingat banyaknya perusahaan dan kontraktor pertambangan batubara besar dan kecil dan hal ini berimbas pada harga kebutuhan pokok dan biaya hidup yang cukup tinggi dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Sarana dan pra sarana yang tersedia antara lain sekolah, jaringan jalan, listrik, telepon, puskesmas, kantor pos, bank daerah dan lain-lain yang  dapat dikatakan  cukup memadai.

Lahan di daerah ini sebagian besar merupakan hutan belukar dan hutan reklamasi pertambangan disamping lahan perkebunan dan persawahan milik penduduk. Satwa yang hidup di sini antara lain kera, babi hutan, rusa, beruang, berbagai jenis unggas, ikan air tawar dan lain-lain. Sebagaimana daerah tropis Indonesia lainnya daerah ini memiliki suhu udara rata-rata cukup panas dengan kisaran 22º – 33º C, curah hujan  cukup tinggi dengan rata-rata tahunnya 2700 mm dan potensi penguapannya sekitar 1750 mm. Musim hujan biasanya antara bulan Nopember sampai Maret dan musim kemarau antara bulan Juni sampai Agustus, sedangkan bulan-bulan lainnya merupakan masa peralihan. Arah angin menunjukkan pola keragaman musiman, dimana pada musim hujan berasal dari arah barat-baratdaya, sedangkan musim kemarau secara umum berasal dari arah selatan-tenggara.

Waktu Penyelidikan

Kegiatan penyelidikan dilakukan pada tanggal 23 September sampai dengan 6 Desember 2008 sekitar 75 (tujuh puluh lima) hari kerja termasuk waktu perjalanan, pengurusan surat dan administrasi kerja di lapangan.

Pelaksana dan Peralatan

Tim yang bertugas melaksanakan kegiatan ini terdiri atas sub tim Pemetaan, sub tim Pemboran, sub tim Packer Tes dan sub tim Pengukuran Kandungan Gas dimana anggotanya terdiri atas Geologist, Surveyor, Juru Bor (driller), Asisten Juru Bor beserta anggota penunjang lainnya dan petugas dari PEMDA Kabupaten Tanah Bumbu.

Peralatan dan alat penunjang yang digunakan dalam penyelidikan antara lain :

  1. Peta dasar topografi
  2. Palu, kompas geologi dan loupe 20x
  3. GPS (Global Positioning  System) 12 satelit
  4. Pita ukur
  5. Kantong conto
  6. Kamera Lapangan
  7. Catatan lapangan
  8. Satu Unit mesin bor LY-38 beserta perangkat penunjangnya
  9. Satu Unit Mobil Laboratorium CBM
  10. Satu Unit Packer Tes
  11. Satu Unit Alat Logging
  12. Kompas geologi (Brunton)
  13. Palu geologi (Estwing)
  14. GPS (12 satelit)
  15. Loupe (10x dan 20x)
  16. Altimeter
  17. Stopwatch
  18. Roll meter
  19. Kamera Digital
  20. Tali ukur (25 m)
  21. Pengukur temperatur (probe/sensor) canister
  22. Pengukur temperatur (probe/sensor) ruangan
  23. Pengukur tekanan atmosfier (barometer)
  24. Tabung canister
  25. Tabung pengukur gas

GEOLOGI UMUM

 

Stratigrafi Regional

Daerah penyelidikan menurut tatanan tektonik termasuk ke dalam Cekungan Pasir, dimana daerah penyelidikan diduga berlangsung pada Jaman Jura yang mengakibatkan bercampurnya batuan pratersier seperti ultramafik, batuan bancuh, sekis garnet amfibol dan batupasir terkersikkan. Genangan laut dan kegiatan gunungapi terjadi pada Jaman Kapur Akhir bagian bawah yang menghasilkan Formasi Pitap, Formasi Manunggul, Formasi Haruyan dan Formasi Paau. Pada Jaman Kapur akhir bagian atas terjadi kegiatan magma yang menghasilkan terobosan diorit. Diorit ini menerobos batuan alas Formasi Pitap dan batuan-batuan yang lebih tua. Pengangkatan dan pendataran terjadi pada Awal Paleosen-Eosen yang diikuti pengendapan Formasi Tanjung bagian bawah, sedangkan bagian atas formasi ini terbentuk saat genanglaut. Paparan karbonat Formasi Berai terbentuk dalam kondisi genanglaut Oligosen. Pada Misoen Tengah terjadi susutlaut dan bersamaan dengan pengendapan Formasi Warukin dalam suasana darat. Kegiatan tektonik terjadi lagi pada Miosen Akhir yang mengakibatkan hampir seluruh batuan Mesozoikum membentuk Tinggian Meratus yang memisahkan Cekungan Barito dan Cekungan Pasir. Pada akhir Miosen Akhir batuan-batuan pratersier dan tersier terlipat kuat dan tersesarkan. Pada Plio-Plistosen berlangsung lagi pendataran dan pengendapan Formasi Dahor pada Pliosen dan kemudian diikuti pengendapan Aluvium. Secara skematis stratigrafi regional dapat dilihat pada Gambar 3.

Susunan batuan yang terdapat pada formasi-formasi batuan disekitar daerah penyelidikan, secara regional dapat dijelaskan dari formasi batuan yang termuda sampai yang tertua adalah sebagai berikut :

Endapan Alluvium, endapan alluvium merupakan satuan batuan yang paling muda yang dijumpai di daerah penyelidikan, satuan batuan ini berumur kuarter, menempati daerah pantai dan pinggiran sungai-sungai besar, satuan ini tersusun oleh litologi lempung, lanau, pasir dan kerikil, dimana sifat batuan pada satuan aluvium ini belum kompak dan masih terurai (unconsolidated), dan diendapkan secara tidak selaras terhadap batuan sekitarnya.
Formasi Dahor, tersusun oleh batupasir kuarsa, mudah hancur, setempat bersisipan lempung, lignit, limonit, kerakal kuarsa asap dan basal. Terendapkan di lingkungan paralis, tebal formasi ini diperkirakan sekitar 750 meter
Formasi Warukin, tersusun atas batupasir kuarsa, berbutir sedang-kasar, kurang padat, setempat konglomeratan, mengandung sisipan batulempung. batulanau dan batubara.
Formasi Berai, berupa batugamping berwarna kuning sampai kecoklatan, umunya berlapis dan padat serta keras. Formasi ini diendapakan silang jemari dengan formasi atas dan bawahnya.
Formasi Tanjung, berupa perselingan batupasir, batulempung, batulanau, konglomerat dan  batubara.
Batuan PraTersier, adalah satuan batuan tertua yang mengisi Cekungan Pasir, terdiri atas batuan ultramafik, serpentinit, batuan bancuh, sekis garnet amfibol, batupasir terkersikkan. Formasi ini diendapkan secara tidak selaras terhadap seluruh formasi yang ada.

Dari kesemua formasi yang telah disebutkan di atas, Formasi Warukin dan Tanjung merupakan formasi pembawa batubara di wilayah penyelidikan.

Struktur Geologi Regional

Secara umum struktur geologi yang terdapat di daerah penyelidikan adalah sesar dan perlipatan. Sumbu lipatan umumnya berarah baratdaya-timurlaut dan utara-selatan, dan sejajar dengan arah sesar normal, sedangkan sesar mendatar umumnya berarah baratlaut-tenggara dan baratdaya-timurlaut. Secara global tektonik yang terjadi di daerah tersebut pada Plio-Plistosen mengakibatkan terjadinya ketidakselarasan dan pengaktifan kembali struktur geologi yang sudah ada.

Struktur lipatan berada pada formasi Tanjung dan sesar minor berada pada Formasi Tanjung dan Batuan Pra Tersier di bagian Utara daerah penyelidikan. Secara umum kemiringan lapisan batuan di wilayah penyelidikan relatif datar sekitar 10-20o. Terdapat beberapa struktur yang komplek di wilayah Timur dari Peta Geologi Regional (Gambar 2), sehingga kondisi batuannya mengalami perubahan struktur, baik ketebalan dan kemiringan lapisan.

Dari analisa kerangka tektonik Pulau Kalimantan (Gambar 4) ditunjukkan bahwa lokasi penyelidikan berada di wilayah Cekungan Pasir. Dimana cekungan ini dibatasi pada bagian Barat oleh Tinggian Meratus. Tinggian Meratus ini dibuktikan dengan adanya beberapa batuan Pra-Tersier yang berupa batuan ultramafik.

Endapan Batubara dan Kandungan Gas Batubara

Berdasarkan data terdahulu, belum pernah dilakukan penyelidikan dan inventarisasi mengenai pengukuran kandungan gas di daerah penyelidikan saat ini. Tetapi ada beberapa perusahaan swasta yang telah melakukan eksplorasi batubara dengan metoda tambang terbuka dan pra-tambang bawah tanah di wilayah Kabupaten Tanah Bumbu, namum untuk tambang dalam (underground minning) belum dieksploitasi secara signifikan. Hal ini dipengaruhi oleh daya dukung teknologi, kondisi ekonomis dan kesiapan sarana-prasarana tambang bawah tanah untuk saat ini. Kegunaan terpenting dalam mengetahui akan kandungan gas dalam seam batubara salah satunya adalah mengetahui adanya kandungan gas dalam batubara, yang dapat membahayakan bagi keselamatan tambang. Hal ini merupakan point tersendiri yang harus diketahui agar keselamatan tambang dapat terjamin, oleh karena ada sebagian unsur kandungan gas yang sangat sensisitif terhadap kecenderungan terjadinya ledakan atau kebakaran tambang, khususnya pada perencanaan eksplorasi tambang bawah tanah (underground).

Formasi pembawa batubara pada wilayah penyelidikan adalah Formasi Warukin dan Formasi Tanjung. Namun sasaran formasi pembawa batubara yang dijadikan sasaran penyelidikan adalah Formasi Tanjung dan berumur Eosen. Formasi ini berdasarkan literatur yang ada merupakan seam batubara yang potensial untuk di eksplotasi, hal ini terbukti dengan adanya beberapa perusahaan batubara baik PKP2B dan KP yang berada di sekitar wilayah penyelidikan. Secara umum Formasi Tanjung ini terdiri atas batuan alterasi batupasir halus hingga kasar, mudstone, batulanau dan beberapa lapisan karbonan serta lapisan batubara didalamnya. Ketebalan lapisan batubara dan karbonan ini sangat bervariasi tergantung dari kondisi geologi setempat. Secara umum kenampakan fisik dari batubara yang ada berwarna hitam terang dan tidak berlapis, di beberapa lapisan batubara terdapat adanya mineral pyrit dengan kuantitas rata-rata > 1.1 %, kemudian beberapa parting karbonan dengan ketebalan bervariasi di antara lapisan-lapisan batubara yang ada. Kemudian berdasarkan data terdahulu nilai sulfur dari batubara secara umum di wilayah penyelidikan mempunyai kisaran 0,34 – 3,30 %, abu 14,2 – 17,2 % da nilai kalori mencapai 5900 – 6500 kcal/gr.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.